Berita  

SMKN 3 Sampang Porak-poranda Dilanda Banjir Rob, Pihak Sekolah Minta Relokasi 

Banjir Rob
Sampah berserakan Di halaman SMKN 3 Sampang, Pulau Mandangin, paska dilanda banjir rob

Dapurrakyatnews – Banjir Rob merupakan fenomena yang sering terjadi di kawasan pesisir pantai. Fenomena ini terjadi ketika air laut mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari biasanya, yang mengakibatkan genangan air yang masuk ke daratan.

Letak yang tidak jauh dari laut menjadi penyebab utama SMKN 3 Sampang, Desa Mandangin, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, kerap dilanda banjir rob.

Ditambah lagi tingginya intensitas hujan, yang juga menjadi faktor penyuplai terjadinya genangan air dan merendam area sekolah yang berada di satu-satunya pulau di Kabupaten Sampang ini, sejak tanggal 14 hingga 15 Desember 2024 lalu.

Wakil Kepala Sekolah SMKN 3 Sampang Mabrur Jailani menjelaskan, banjir rob menyebabkan halaman sekolah terendam air setinggi 40 hingga 60 cm.

Baca juga: Tak Ada Angin Tak Ada Hujan, Ruang Kelas SDN Torjunan 1 Sampang Roboh

Sejumlah fasilitas sekolah juga mengalami kerusakan parah. Seperti pagar, tanaman, lapangan olahraga, ring basket, tiang bendera, dan perangkat penyimpanan rekaman CCTV, seperti DVR 18 dan DVR 12 port.

Selain itu, banjir rob juga merusak sejumlah sarana dan prasarana sekolah. Seperti kamera CCTV, 2 LCD monitor, 3 komputer all in one, 3 laptop, 3 printer, kabel listrik, dan gedung sekolah.

Pihaknya terpaksa menggagalkan kegiatan class meeting paska ujian semester, dan menggelar kegiatan kerja bakti bersama semua civitas sekolah.

“Kalau dampak yang tidak langsung, yang jelas kegiatan sekolah terganggu, karena kelas dan jalan tergenang air dan sampah,” beber Mabrur, pada Jumat (20/12/2024).

Selain soal kerusakan sarana dan prasarana serta fasilitas sekolah, justru yang dikhawatirkannya adalah kesehatan siswa dan guru.

Sebab, bencana banjir ini juga berpotensi menimbulkan penyakit diare dan Demam Berdarah Dengue.

Sementara untuk kerugian material, Mabrur menyebut sangat signifikan, berkisar Rp. 100 juta .

Pihaknya berharap, adanya peningkatan infrastruktur. Seperti pembangunan tanggul dan dinding penahan air, serta peninggian halaman sekolah agar tidak mudah terendam air ketika terjadi cuaca ekstrim.

“Tapi yang lebih baik adanya relokasi ke tempat yang lebih aman,” pintanya.

 

Tinggalkan Balasan