Dapurrakyatnews – Dalam dinamika birokrasi yang terus menuntut profesionalitas dan integritas, muncul sosok Faruk Hanafi, S.Sos., M.Si., yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Sumenep.
Sosoknya, bukan sekadar birokrat biasa, Faruk adalah representasi aparatur negara yang tumbuh dari bawah, memahami realitas birokrasi secara menyeluruh, dan membuktikan kapasitasnya melalui kinerja nyata.
Pria kelahiran Pamekasan, 21 Maret 1977 ini, mengawali karirnya sebagai ASN sejak 10 Februari 1996, Perjalanan karir Faruk tak bisa dipandang remeh. Dari staf kecamatan di wilayah ujung barat Sumenep, perlahan tapi pasti, ia menapaki tangga birokrasi hingga menjabat Camat Kota Sumenep, dan kini sebagai kepala Bapenda.
Selama hampir dua tahun menjabat Kepala Bapenda, Faruk Hanafi mencatatkan prestasi penting dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumenep. Dalam konteks ini, ia tidak hanya berperan sebagai administrator, tetapi juga sebagai inovator kebijakan fiskal daerah.
Keberhasilannya mengelola potensi PAD menjadi bukti konkret bahwa Faruk memiliki kompetensi teknokratis yang mumpuni.
Melihat rekam jejak dan performanya, wajar jika publik mulai melirik Faruk Hanafi sebagai salah satu figur kuat yang layak dipertimbangkan untuk mengisi jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep, menggantikan Edy Rasiyadi yang akan memasuki masa purna tugas pada Agustus tahun ini.
Dalam kontestasi figur calon Sekda, Faruk Hanafi bisa diibaratkan sebagai kuda putih, sosok tak selalu terlihat mencolok di awal, namun berpotensi unggul dan menang karena kapasitas serta integritas yang dimilikinya.
Memang, jika merujuk pada persyaratan formal yang mengharuskan seorang calon Sekda pernah menjabat minimal dua kali sebagai kepala OPD, Faruk baru satu kali menjabat di posisi tersebut. Namun, perlu digarisbawahi bahwa Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, memiliki diskresi yang sah menurut peraturan perundang-undangan untuk menentukan dan mempercayakan siapa yang akan menduduki jabatan strategis tersebut.
Diskresi itu penting, terutama ketika menyangkut kebutuhan akan figur Sekda yang tidak hanya sekadar memenuhi syarat administratif, tetapi juga mampu menjawab tantangan daerah ke depan.
Dalam hal ini, pengalaman Faruk dalam mengelola keuangan daerah, pemahamannya terhadap dinamika birokrasi akar rumput, serta kedekatannya dengan berbagai elemen masyarakat menjadi keunggulan tersendiri yang tak bisa diabaikan.
Kita tentu berharap, pengisian jabatan Sekda Sumenep tidak semata mempertimbangkan aspek administratif, tetapi juga mempertimbangkan kualitas kepemimpinan, rekam jejak, dan integritas personal. Dalam konteks itu, nama Faruk Hanafi layak masuk dalam radar pertimbangan utama. Ia bukan hanya sekadar calon, tapi Kuda Putih yang dapat menjadi motor penggerak reformasi birokrasi dan pembangunan Sumenep yang lebih profesional, responsif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang prima.




