Home / Tak Berkategori

Pembangunan Industrialisasi Eksploitatif dan Kesejahteraan Sumenep

- Editorial Team

Minggu, 26 September 2021 - 23:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Ahmad Bahrur Rozi, M.hum. (Akademisi, Peneliti, dan Penulis)

Dr. Ahmad Bahrur Rozi, M.hum. (Akademisi, Peneliti, dan Penulis)

Sumenep, Dapurrakyatnews  –    Sumenep Sejahtera?   Semua penguasa berjanji akan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Negara, sebagai institusi supra dimana individu menyerahkan sebagian kekuasaannya (dengan sukarela ataupun dengan paksaan), tak pernah berhasil menunjukkan bahwa ia mampu menghantarkan rakyatnya ke gerbang sejahtera.

Sebab kesejahteraan sesungguhnya tidak melulu menyangkut persoalan angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Karena itu penguasa tak bisa semena-mena memaksakan konsep mereka tentang kesejahteraan. Lebih-lebih menawarkan (memaksakan) solusi “pembangunanisme” ala kaum pemodal dimana kesejahteraan seakan-akan hanya sebatas urusan kemajuan teknologi, industrialisasi, tambang, ekstraksi, dan segala bentuk pengerusakan alam atas nama kesejahteraan materialis.

Bukan untuk mempromosikan penderitaan, hanya untuk menyarankan bahwa tafsir tentang kesejahteraan tidak boleh hanya fokus pada persoalan pemenuhan kebutuhan materi, namun juga mencakup kemandirian, kebebasan (bebas dari rasa takut, bebas dari ancaman penghilangan paksa, bebas mengemukakan pemdapat), belum lagi kebahagiaan batin spiritual.

Dalam ajaran Sidharta Gautama hidup adalah arus kesenangan dan penderitaan yang konstan. Karenanya mustahil menghapus penderitaan, sebagaimana angan-angan kaum materialis. Ketika para petani menggarap tanah ladangnya sendiri, Penghasilan mereka dari itu memang tak seberapa. Tetapi kebebasan mereka mengatur durasi kerja dan rehatnya sendiri tidak bisa ditukar dengan mereka yang menjadi buruh industri.

Baca Juga:  Internet Desa Solusi Disparitas Kepulauan

Senyuman ramah, cinta sejati, dan kesenangan kecil seperti secangkir kopi panas plus sebatang rokok. Akan terasa membahagiakan saat membiarkan hidup mengambil jalan alaminya. Kesejahteraan sederhana ini, tentu tak bisa ditukar dengan ide, ekspektasi tentang kehidupan mewah dan berkecukupan materi. tetapi kehilangan hak yang paling asasi, yaitu kemerdekaan.

Sejahtera tidak bisa dipisahkan dari kebebasan, kemandirian, harmoni, dan kebahagiaan batin. Al-Ghazali dalam Kimya’ Sa’adah mewanti kita bahwa kebahagian sejati itu immaterial, berada di dalam diri. Mencari kebahagian material di luar diri hanya akan menjerumuskan manusia pada penderitaan.

Sekali lagi, ini bukan ajakan untuk menerima kemiskinan dalam hidup. Melainkan untuk menyatakan bahwa kesejahteraan adalah keseimbangan, antara terpenuhinya kebutuhan material dan immaterial sekaligus.

Baca Juga:  Pemerintah akan Larang Mobil Mewah dan Mobil Dinas TNI/Polri Konsumsi Pertalite

Sejahtera harus mempertimbangkan juga kebahagiaan jiwa, penghormatan, kebebasan (bebas dari rasa takut, bebas dari ancaman penghilangan paksa, bebas mengemukakan pendapat, bebas berpartisipasi).

Memaksakan industrialisasi eksploitatif (industrialisasi, ekstraksi, penambangan) dalam membangun Sumenep, bagi saya, tak ubahnya logika pembangunan ala “ternak ayam potong”. Dikandangin bagus-bagus, terasing dari habitat dan nilai-nilainya. Meski pakan berlimpah, tetapi setelah gemuk akhirnya dipotong juga. Ingat, rakyat sumenep bukan ayam potong yang di sejahterakan lalu dipotong.

 

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel dapurrakyatnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DKR Sampang Soroti Pasien BPJS yang Pulang Paksa dan Dibebani Biaya Umum
‎Harhubnas ke-55, KSOP Kalianget Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim
Harhubnas 2026, Dadang Dedy Iskandar: Pelayanan Transportasi Harus Aman, Nyaman dan Terintegras
Peringati Harhubnas 2026, Perkimhub Sumenep Teguhkan Komitmen Keselamatan Transportasi
Inspektorat Sumenep Tegaskan Terbuka terhadap Kritik dan Masukan dari Masyarakat
Aturan Klaim Pasien Pulang Paksa Masih Simpang Siur, BPJS Sampang Terapkan Readmisi
‎Masyarakat Pulau Manok Kesulitan Air Bersih, Air Minum Harus Didatangkan dari Sapudi dan Raas ‎
‎Sumur Bor di Sumenep Semburkan Air Disertai Bau Gas, Sempat Terbakar Saat Disulut Api

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 18:09 WIB

DKR Sampang Soroti Pasien BPJS yang Pulang Paksa dan Dibebani Biaya Umum

Kamis, 17 September 2026 - 14:06 WIB

‎Harhubnas ke-55, KSOP Kalianget Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim

Kamis, 17 September 2026 - 09:59 WIB

Harhubnas 2026, Dadang Dedy Iskandar: Pelayanan Transportasi Harus Aman, Nyaman dan Terintegras

Kamis, 17 September 2026 - 09:37 WIB

Peringati Harhubnas 2026, Perkimhub Sumenep Teguhkan Komitmen Keselamatan Transportasi

Rabu, 16 September 2026 - 17:26 WIB

Inspektorat Sumenep Tegaskan Terbuka terhadap Kritik dan Masukan dari Masyarakat

Berita Terbaru