Berita  

Indonesia dan Vietnam Perkuat Kerja Sama Ekonomi di Sektor Lobster dan Batubara

Indonesia
HRM Khalilur bersama dengan kolega dari Vietnam.

Dapurrakyatnews – Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Vietnam semakin menguat, khususnya di dua sektor strategis, perikanan, terutama ekspor Benih Bening Lobster (BBL), dan batubara. Meski kedua sektor ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk isu lingkungan, bisnis di kedua negara terus berkembang pesat, dan berpotensi menjadi penopang utama ekonomi masing-masing negara.

Vietnam telah lama dikenal sebagai pemain utama dalam industri lobster dunia. Sejak 1992, negara ini telah mengembangkan teknologi budidaya lobster melalui penelitian intensif yang didukung berbagai perguruan tinggi. Kini, Vietnam menjadi eksportir lobster terbesar di dunia dengan produksi mencapai miliaran ekor setiap tahunnya. Tiga provinsi utama yang menjadi pusat budidaya lobster di Vietnam adalah Phu Yen, Khanh Hoa, dan Ninh Thuan.

Budidaya lobster di Vietnam memanfaatkan keramba jaring apung yang ditempatkan di teluk tertutup, yang memiliki kondisi laut ideal dengan arus dan gelombang yang stabil. Teknik ini terbukti berhasil meningkatkan produksi lobster dan memberikan keuntungan besar dari ekspor.

Namun, keberhasilan industri lobster Vietnam juga tidak lepas dari kontribusi Indonesia. Vietnam sangat bergantung pada pasokan Benih Bening Lobster (BBL) dari Indonesia. Sebelum Januari 2024, pasokan ini diperoleh melalui jalur penyelundupan karena Indonesia sempat melarang ekspor BBL. Namun, sejak awal 2024, pemerintah Indonesia dan Vietnam sepakat untuk melegalkan kembali perdagangan BBL di bawah konsep baru, yakni berbudidaya lobster di luar negeri.

Menurut HRM Khalilur, seorang pengusaha asal Indonesia yang telah mempelajari metode budidaya lobster di Vietnam, potensi ekonomi dari sektor ini sangat besar.

“Harga BBL di Vietnam berkisar antara 2 hingga 7 USD per ekor, dan total transaksi bisa mencapai 77 triliun rupiah per tahun. Saya yakin, dengan mengadopsi teknologi budidaya dari Vietnam, Indonesia bisa menjadi penghasil dan eksportir lobster terbesar di dunia,” ujarnya.

Khalilur juga menyebutkan rencananya untuk mengembangkan budidaya lobster di 567 teluk yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia, termasuk Teluk Rote Ndao di NTT dan Teluk Kangean di Sumenep, Jawa Timur.

Selain sektor lobster, Vietnam juga menjadi pasar penting bagi batubara Indonesia. Dengan populasi mencapai 100 juta jiwa, kebutuhan batubara Vietnam, terutama di wilayah selatan, sangat tinggi. Sejak 2015, sebagian besar kebutuhan batubara Vietnam Selatan dipenuhi oleh Indonesia, sementara wilayah utara masih mampu mencukupi kebutuhannya melalui produksi domestik. Permintaan batubara dari Indonesia ke Vietnam kini mencapai 60 juta metrik ton per tahun.

HRM Khalilur menargetkan untuk mengambil 25% dari total permintaan batubara Vietnam. “Kami berencana memastikan pasokan batubara langsung ke pembeli di Vietnam dengan model penjualan yang lebih efisien, yakni ‘di depan pintu pembeli’. Ini akan memangkas biaya distribusi dan mempercepat proses pengiriman,” jelas Khalilur.

Melihat peluang besar di kedua sektor ini, Khalilur optimistis bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain dominan di industri lobster dan batubara di kawasan Asia.

“Dengan inovasi di sektor perikanan dan strategi yang tepat di pasar batubara, saya yakin Indonesia bisa menjadi pemimpin di kedua sektor ini dalam waktu dekat,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan