Dapurrakyatnews – Setelah merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga pada 31 Maret 2025, sebagian besar pemudik mulai kembali ke tempat asal mereka. Hal ini terlihat jelas di berbagai titik transportasi, termasuk Pelabuhan Tarebung di Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Kepadatan penumpang mulai terasa saat ratusan calon penumpang mengantri untuk menyeberang menuju Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Jawa Timur. Kamis (3/4/2025).
Di tengah antrian yang tampak panjang, sebuah insiden memicu ketegangan di antara para penumpang. Ratusan calon penumpang tampak bersabar menunggu giliran untuk masuk ke dalam kapal.
Namun, tak sedikit pula yang tampak tidak mengikuti aturan dan memasuki area kapal KMP Wicitra Dharma 1 tanpa melalui antrian yang sudah disediakan. Puluhan penumpang tampak masuk begitu saja, seolah tidak memperhatikan antrian yang sudah ditunggu oleh banyak orang.
Tentu saja, kejadian ini memicu protes keras dari para penumpang yang merasa dirugikan. Beberapa di antaranya bahkan tidak segan-segan meneriakkan ketidakpuasan mereka.
“Kita juga manusia, pak!” teriak seorang calon penumpang di tengah antrian yang semakin sesak.
Saya (Pemred Dapurrakyatnews) yang kebetulan berada di tengah tengah antrian, mencoba mengonfirmasi masalah ini kepada petugas yang diketahui dari PT Dharma Dwipa Utama (DDU), Sayangnya, petugas tersebut hanya memberikan penjelasan bahwa mereka mendahulukan bayi, sebuah penjelasan yang jelas tidak memadai.
Jika itu yang menjadi alasan, maka berbanding terbalik dengan calon penumpang yang juga sedang membawa bayi, namun mereka ikut dalam antrian penumpang.
Saya yang melihat langsung kejadian tersebut mengonfirmasi bahwa selain bayi, ada pula puluhan penumpang dewasa yang juga masuk tanpa mengikuti prosedur yang berlaku.
Di sisi lain, salah satu petugas yang berjaga justru memberikan penjelasan yang lebih mengecewakan. “Kami sudah bekerja sesuai dengan SOP. Bapak sudah merayakan Idul Fitri, sedang kami untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, belum merayakan Idul Fitri seperti penumpang lainnya,” ujarnya.
Namun, saat saya mendengar pernyataan ini dengan tegas membantahnya. “Apa yang Anda kerjakan ini adalah bagian dari risiko pekerjaan. Jika merasa tidak sanggup, lebih baik mundur, karena masih banyak orang lain yang membutuhkan pekerjaan ini,”
Insiden ini mengungkapkan pentingnya pengelolaan yang lebih baik di sektor transportasi, terutama pada saat arus mudik dan balik seperti ini.
Saya berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Semua penumpang berhak diperlakukan dengan adil, dan setiap petugas harus mematuhi aturan yang ada demi kelancaran dan kenyamanan bersama.
Dalam hal ini, kepatuhan terhadap antrian adalah bentuk penghargaan terhadap waktu dan hak orang lain, yang harus dijaga agar tidak tercoreng hanya karena dugaan kelalaian pengelola pelabuhan dan petugas yang ada.




