Dapurrakyatnews, – Sudah hampir satu dekade berlalu, nasib tragis masih menghantui Sekolah Dasar Negeri (SDN) 28 Pasar Surantih, di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Pasalnya, Bangunan belakang sekolah tersebut, terus-menerus dijadikan penahan ombak, menghadapi abrasi yang tak kunjung usai.
Setiap hari, ratusan siswa dan puluhan guru harus menjalani proses belajar mengajar dengan perasaan was-was.
Dimana tidak, Ombak yang ganas terus menggerus bangunan sekolah, mengancam keselamatan dan kenyamanan para murid.
Kondisi mengenaskan ini tampak kontras dengan latar belakang Bupati Pesisir Selatan, Rusma Yul Anwar, yang seharusnya memahami betul pentingnya pendidikan.
Ironisnya, meski Bupati Rusma Yul Anwar telah menjabat selama tiga tahun, tidak ada solusi konkret yang diberikan untuk mengatasi masalah ini. Kepedulian pemerintah daerah seolah hilang ditelan ombak.
Ikal Jonedi, anggota DPRD Pesisir Selatan, mengungkapkan kekesalannya terhadap kelambanan pemerintah daerah dalam menyelesaikan permasalahan ini.
“Sudah hampir sembilan tahun masalah ini berlangsung, dan hingga kini, tidak ada langkah nyata dari Pemkab Pessel untuk menyelesaikannya,” ujar Ikal dengan nada getir, pada Kamis dikutip dari bandasapuluah.com (27/6/2024).
Keadaan ini sungguh miris, mengingat latar belakang Bupati Rusma Yul Anwar sebagai seorang pendidik, dan mantan Kepala Dinas Pendidikan. Harapan besar yang semula diletakkan pada pundaknya, kini hanya tinggal angan.
Ikal Jonedi menilai, tidak ada upaya dari pemerintah daerah untuk mencarikan solusi terhadap bangunan sekolah yang terancam abrasi itu.
“Seharusnya dengan latar belakang pendidik, bupati lebih peka terhadap isu-isu pendidikan,” tegas Ikal.
lanjut ikal, sebagai wakil rakyat, ia telah berusaha maksimal untuk membantu. Ia mengalokasikan dana pokirnya dua kali untuk membangun batu penahan ombak. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama, terus-menerus tergerus oleh ganasnya ombak.
“Saya sudah sampaikan kondisi ini ke BPBD, Dinas Pendidikan, PU, bahkan tingkat Balai. Tapi sampai sekarang tidak ada tanggapan,” kata Ikal dengan nada kecewa.
Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah. Jika tidak segera direlokasi atau dicarikan solusi, ombak yang kian ganas akan terus mengancam keselamatan siswa dan guru.
“Jika tidak segera diatasi, air pasang akan masuk ke dalam sekolah, mengganggu proses belajar mengajar. Apalagi atap bangunan sebagian sudah mulai bocor,” tutup Ikal.




