Berita  

BPBD Sumenep Gelar Sapa Destana untuk Pastikan Desa Tetap Siap Hadapi Bencana

BPBD

Dapurrakyatnews – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep melaksanakan kegiatan Sapa Destana, yakni program monitoring dan evaluasi (Monev) khusus yang ditujukan bagi desa-desa yang telah ditetapkan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana).

Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh sistem kesiapsiagaan yang pernah dibangun tetap berjalan, tidak hanya aktif pada tahun pembinaan.

Sapa Destana dilaksanakan di sejumlah desa pilihan, meliputi Desa Babbalan (Kecamatan Batuan), Desa Nambakor (Kecamatan Saronggi), Desa Tanjung (Kecamatan Saronggi), dan Desa Kasengan (Kecamatan Manding).

Setiap desa dinilai berdasarkan beberapa indikator, seperti kesiapan relawan, keberfungsian kelembagaan Destana, pembaruan dokumen risiko, jalur evakuasi, serta sarana prasarana kedaruratan.BPBD Sumenep menegaskan bahwa Sapa Destana bukan sekadar kunjungan rutin, tetapi sebuah mekanisme evaluasi komprehensif. Tujuan utamanya meliputi:

1. Menilai Keberlanjutan Program Destana

Mengecek apakah desa tetap menjalankan kegiatan PRB (Pengurangan Risiko Bencana) setelah pembentukan awal.

2. Mengidentifikasi Kendala dan Kebutuhan Desa

Menggali tantangan yang dialami desa dalam mempertahankan kesiapsiagaan, seperti minimnya sarana evakuasi atau kurangnya pelatihan lanjutan.

3. Mengukur Kesiapan Relawan dan Kelembagaan

Menilai sejauh mana tim Destana masih aktif, terlatih, dan memahami tugas darurat.

4. Memvalidasi Dokumen Kesiapsiagaan

Memastikan dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon), Kajian Risiko Bencana Desa, hingga SOP Evakuasi tetap relevan dan tidak kadaluarsa.

5. Menjadi Dasar Penyusunan Pembinaan Berikutnya.

Selain itu, hasil Sapa Destana menjadi rujukan BPBD untuk memberikan pelatihan tambahan, memperkuat relawan, dan meningkatkan kualitas sarpras desa. Kegiatan ini memberikan sejumlah manfaat nyata bagi desa, di antaranya:

* Desa tetap siaga dan tidak lengah meskipun tidak sedang terjadi bencana.
* Masyarakat mendapatkan edukasi berkelanjutan tentang mitigasi dan evakuasi.
* Relawan desa tetap terlatih, tidak kehilangan kemampuan dasar pertolongan pertama.
* Sarana evakuasi terpelihara, sehingga meminimalkan risiko ketika bencana terjadi.
* Perencanaan desa semakin akurat, karena berbasis data terbaru hasil monitoring BPBD.
* Memperkuat budaya sadar bencana dari tingkat keluarga hingga komunitas.

Dengan manfaat tersebut, Sapa Destana menjadi jembatan penghubung antara pembinaan desa dan realitas kesiapsiagaan di lapangan.

Kepala BPBD Kabupaten Sumenep, Achmad Laili Maulidi, menegaskan bahwa Sapa Destana adalah langkah penting untuk memastikan desa tetap kuat menghadapi ancaman bencana.

“Pembentukan Destana itu baru permulaan. Yang lebih penting adalah menjaga agar desa tetap tangguh. Melalui Sapa Destana, kami memastikan bahwa relawan masih siap, dokumen masih berlaku, dan jalur evakuasi benar-benar bisa digunakan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tanpa monitoring, banyak desa berpotensi mengalami penurunan kesiapsiagaan.

“Desa bisa saja melemah jika tidak dipantau. Karena itu, Sapa Destana menjadi alat ukur kami untuk melihat apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

Laili juga menekankan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan.

“Ketangguhan Desa bukan ditentukan BPBD saja. Keterlibatan warga adalah kuncinya. Kami ingin memastikan semua unsur, mulai perangkat desa hingga kelompok rentan, benar-benar paham peran mereka saat terjadi bencana,” tutupnya.

 

Tinggalkan Balasan