Dapurrakyatnews – Masyarakat Pulau Manok, Desa Sonok, Kecamatan Nonggunong, Kabupaten Sumenep, menghadapi persoalan serius dalam memenuhi kebutuhan air bersih, terutama untuk konsumsi sehari-hari. Kondisi air di wilayah tersebut terasa asin sehingga tidak dapat digunakan sebagai sumber air minum.
Untuk memenuhi kebutuhan air minum, masyarakat terpaksa mendatangkan air dari luar pulau, khususnya dari Pulau Sapudi dan Pulau Raas. Air tersebut diangkut menggunakan perahu dan kemudian dibeli oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Salah seorang warga Pulau Manok, Juhairi, mengatakan kondisi tersebut sudah menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, sumber air dari alam yang tersedia di Pulau Manok tidak layak untuk dikonsumsi karena rasanya asin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk air di Pulau Manok memang tidak bisa dikonsumsi karena rasa airnya asin. Sebagai gantinya kami mengambil dari Pulau Sapudi atau ke Pulau Raas,” katanya. Selasa (15/9/2026).
Ia menjelaskan, masyarakat harus menggunakan jerigen untuk mengambil air dari pulau lain. Air kemudian dibawa menggunakan perahu menuju Pulau Manok. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mendapatkan air minum.
“Memang kesulitan untuk air bersih. Masalahnya pengambilannya harus dari Sapudi. Kami pakai jerigen dan menggunakan kapal untuk mengambil air ke sana,” ujarnya.
Menurut Juhairi, masyarakat selama ini mendapatkan air dengan cara membeli melalui perahu yang mendatangkan air dari pulau lain. Namun, proses tersebut tidak selalu mudah karena sangat bergantung pada kondisi cuaca dan pasang surut air laut.
“Benar, pengambilannya melalui perahu. Kami membeli dan mengambil air dari sana. Di sini sering kewalahan air karena ada faktor laut. Kalau air laut sedang surut, agak sulit juga mengambilnya,” jelasnya.
Juhari menambahkan, masyarakat juga harus menyesuaikan waktu pengambilan air dengan kondisi pasang laut. Persoalan semakin berat karena hingga kini belum tersedia penampungan air yang memadai di Pulau Manok.
“Kita harus menyesuaikan dengan cuaca. Kalau sudah musim air pasang, baru kita bisa mengambil air. Kita tidak punya penampungan air di Pulau Manok. Itu yang menjadi kesulitan,” ungkapnya.
Dalam satu kali pembelian, kebutuhan air setiap rumah tangga juga terbatas. Juhairi menyebut, satu rumah biasanya membeli sekitar tiga jerigen yang terkadang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari.
“Satu rumah biasanya tiga jerigen. Tiga jeriken itu kadang-kadang bisa dipakai selama satu minggu,” tuturnya.
Untuk mendapatkan air tersebut, masyarakat harus membeli dengan harga sekitar Rp10 ribu per jerigen atau sesuai ukuran dan pemesanan. Kondisi ini menjadi beban tersendiri bagi warga karena air merupakan kebutuhan dasar yang harus tersedia setiap hari.
Persoalan air bersih di Pulau Manok juga tidak mudah diselesaikan dengan membuat sumur baru. Juhari mengatakan, upaya pengeboran atau pencarian sumber air tanah sebelumnya sudah pernah dilakukan, namun hasilnya tetap tidak dapat digunakan karena air semakin asin.
“Kalau untuk pengeboran di sini tidak bisa. Semakin dalam malah semakin asin. Dari kepala desa dulu sudah pernah mencoba beberapa kali, tetapi tidak bisa,” katanya.
Ia menjelaskan, kedalaman sumur warga rata-rata hanya sekitar dua hingga tiga meter sudah mengeluarkan air. Namun, air tersebut tetap terasa asin sehingga tidak dapat dijadikan sumber air minum.
“Sumur di sini sekitar tiga meter, dua meter sudah keluar air, tetapi airnya asin. Terpaksa warga Pulau Manok, Desa Sono, mencari air ke Pulau Raas atau Pulau Sapudi,” jelas Juhari.
Karena itu, masyarakat berharap pemerintah dapat memberikan solusi jangka panjang. Salah satu kebutuhan yang dinilai mendesak adalah penyediaan tandon atau tempat penampungan air agar air yang didatangkan dari pulau lain dapat disimpan dan digunakan secara bertahap.
“Harapannya kepada pemerintah, kami minta tolong dibantu tandon untuk penampungan air. Karena kami mengambil air dari Sapudi atau Raas, harus ada tempat untuk menampungnya,” harapnya.
Selain tandon, Juhari berharap pemerintah dapat menyediakan sarana transportasi laut yang lebih memadai untuk mengangkut air dalam jumlah besar. Menurutnya, perahu kecil yang selama ini digunakan masyarakat memiliki keterbatasan daya angkut.
“Kalau bisa pemerintah menyediakan kapal yang agak besar untuk mengambil air. Kapalnya bisa membawa muatan sekitar 10 ton,” pungkasnya.
Dengan adanya kapal pengangkut air dan tandon penampungan, masyarakat berharap persoalan air bersih di Pulau Manok dapat ditangani secara lebih serius. Sebab, kebutuhan air minum merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak dapat ditunda dan harus mendapatkan perhatian pemerintah.

Sementara itu, Camat Nonggunong, Bambang Risdiyanto mengatakan, pihaknya telah turun langsung ke Pulau Manok untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus memastikan persoalan kebutuhan air bersih yang selama ini dikeluhkan warga. Dari hasil kunjungan tersebut, kebutuhan terhadap air bersih dinilai memang menjadi persoalan yang perlu segera mendapatkan perhatian.
“Kami sudah datang langsung ke lokasi dan melihat sendiri kondisi masyarakat Pulau Manok yang memang membutuhkan pengadaan air bersih,” ungkap Bambang.
Menurutnya, kondisi geografis Pulau Manok membuat masyarakat memiliki keterbatasan dalam memperoleh sumber air bersih. Karena itu, selain mendatangkan air dari wilayah lain, keberadaan tempat penampungan dengan kapasitas besar dinilai penting agar masyarakat memiliki persediaan air yang dapat digunakan ketika pengambilan air dari luar pulau terkendala.
“Di sana memang harus ada penampungan air dengan kapasitas besar agar masyarakat mempunyai stok air bersih. Ini untuk menanggulangi sementara apabila kondisi cuaca kurang mendukung,” jelasnya.
Bambang menyampaikan, kebutuhan masyarakat tersebut telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep. Pihak kecamatan juga telah mengirimkan surat kepada Bupati Sumenep melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep terkait kebutuhan air bersih di Pulau Manok.
“Kami sudah berkirim surat kepada Bupati Sumenep melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep,” ujarnya.
Ia berharap usulan tersebut dapat segera ditindaklanjuti, sehingga masyarakat Pulau Manok tidak terus-menerus mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air minum, terutama ketika kondisi cuaca dan pasang surut laut menyulitkan proses pengangkutan air dari Pulau Sapudi maupun Pulau Raas.
“Semoga kebutuhan masyarakat Pulau Manok segera dapat terealisasi,” harap Bambang, yang baru sekitar tiga bulan sebagai Camat Nonggunong.
Penulis : A. Junaidi
Editor : Redaksi







