Pendidik dalam Tekanan: Ketika Ruang Kelas Menjadi Sumber Stres yang Tak Terlihat

- Redaksi

Jumat, 11 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Syafriyeti & Desy Triana Dewi

Syafriyeti & Desy Triana Dewi

Penulis: Syafriyeti & Desy Triana Dewi

Mahasiswi Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning Pekanbaru

Profesi pendidik kerap dipandang sebagai pekerjaan penuh dedikasi dan kemuliaan. Namun, di balik idealisme itu, terdapat realitas sunyi yang jarang terungkap yaitu tekanan psikologis yang menghimpit para guru, bahkan dari ruang kelas yang seharusnya menjadi ruang aman dan inspiratif.

Ruang kelas kini tak selalu menjadi tempat yang kondusif bagi proses belajar-mengajar. Justru, bagi sebagian guru, ruang itu berubah menjadi sumber stres akibat tekanan administratif, tantangan pengelolaan perilaku siswa, beban pencapaian target kurikulum, hingga ekspektasi tinggi dari orang tua dan institusi pendidikan.

Tekanan ini sering kali tidak terlihat secara fisik. Ia hadir dalam bentuk kelelahan mental, beban emosional, hingga perasaan kewalahan yang berkelanjutan. Ironisnya, kesehatan mental guru masih menjadi aspek yang minim diperhatikan dalam ekosistem pendidikan, padahal banyak riset membuktikan bahwa kesejahteraan psikologis guru berkorelasi langsung dengan kualitas pembelajaran dan iklim kelas.

Guru yang mengalami stres cenderung kehilangan empati, semangat mengajar menurun, hingga berisiko mengalami burnout. Sayangnya, stres dalam profesi guru masih kerap dianggap sebagai risiko pekerjaan yang wajar, bukan persoalan sistemik yang butuh penanganan nyata.

Realitas ini makin kompleks di daerah tertinggal (3T), di mana keterbatasan fasilitas dan isolasi sosial membuat tekanan semakin besar. Berdasarkan teori Job Demands-Resources (Schaufeli & Bakker, 2020), stres muncul karena ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan sumber daya yang tersedia. Ketika beban kerja tinggi tidak dibarengi dukungan, pengakuan, atau fleksibilitas organisasi, stres bisa menjadi racun yang merusak profesionalitas dan relasi sosial guru.

Dampaknya nyata. Guru yang semula mengajar dengan penuh inspirasi bisa berubah menjadi reaktif, bahkan otoriter. Bukan karena kehilangan motivasi, melainkan karena kehilangan ketahanan emosional akibat tekanan yang terus menerus. Jika guru kehilangan empati, maka siswa pun kehilangan kehangatan dalam belajar.

Lebih jauh, stres juga menumpulkan kreativitas dan inovasi dua kompetensi yang sangat dibutuhkan di era pendidikan abad ke-21. Padahal saat ini, guru dituntut adaptif, kritis, dan mampu mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar. Tapi bagaimana bisa tuntutan ini dipenuhi jika kondisi psikologis pendidiknya tidak sehat?

Perlu dicatat, tidak semua stres berdampak negatif. Konsep eustress menjelaskan bahwa stres dalam kadar tertentu justru bisa mendorong performa. Namun, permasalahannya adalah para pendidik belum dibekali alat atau sistem yang memadai untuk mengelola stres tersebut.

Pendekatan sistematis diperlukan untuk mengatasinya. Menurut Montgomery dkk. (2023), ada tiga lapisan strategi yang bisa diterapkan:

  1. Strategi Pribadi – Meliputi praktik mindfulness, manajemen waktu, dan keseimbangan hidup-kerja.
  2. Strategi Sosial – Seperti penguatan komunitas guru, peer coaching, dan komunikasi antarkolegial.
  3. Strategi Institusional – Termasuk pengurangan beban administratif, kebijakan fleksibel, serta budaya sekolah yang mendukung kesejahteraan guru.

Namun, strategi-strategi tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dalam kebijakan pendidikan nasional. Guru masih dipandang sebagai “mesin produksi kompetensi siswa”, bukan sebagai manusia yang juga membutuhkan ruang untuk pulih, berkembang, dan merasa didukung.

Pendidikan tak akan pernah melebihi kualitas pendidiknya. Dan pendidik tak akan mampu mengembangkan potensi terbaiknya jika terus dihimpit stres yang disangkal keberadaannya. Sudah saatnya kesehatan mental guru menjadi perhatian serius bagi negara, pemerintah daerah, dan pemangku kebijakan pendidikan.

Karena guru yang sehat dan bahagia tak hanya mengajar dengan baik mereka menginspirasi tanpa kata.

 

 

Catatan: Artikel ini merupakan refleksi dari makalah akademik kelompok mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Lancang Kuning berjudul “Stres Pemimpin dalam Organisasi Pendidikan” di bawah bimbingan Dr. Shelvie Famela, S.Pd, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Follow WhatsApp Channel dapurrakyatnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sekda Sumenep Bukan Sekadar Pembantu, Ia Chef Utama Penentu Rasa Pemerintahan
Faruk Hanafi, Kuda Putih dari Bapenda yang Siap Menyongsong Kursi Sekda Sumenep
Prestasi Tidak Akan Datang dari Ruang-Ruang Kosong yang Gelap dan Tidak Terurus
Anwar Syahroni Yusuf, Loyalis Visi Bupati yang Siap Kawal Birokrasi Sumenep dari Kursi Sekda
Figur Kuat Calon Sekda: Kapasitas Tak Diragukan, Namun Komunikasi Masih Jadi PR bagi Eri Susanto
Figur Lengkap dari Putra Daerah : Siapa Didik Wahyudi, yang Dianggap Pantas menjadi Suksesor Edy Rasyadi
Ferdiansyah Tetrajaya, Sosok Berpengalaman yang Layak Dipertimbangkan Sebagai Sekda Sumenep
Moh Ramli, Birokrat Senior yang Dinilai Layak Pimpin Sekretariat Daerah Sumenep

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 13:06 WIB

Sekda Sumenep Bukan Sekadar Pembantu, Ia Chef Utama Penentu Rasa Pemerintahan

Kamis, 7 Agustus 2025 - 09:08 WIB

Faruk Hanafi, Kuda Putih dari Bapenda yang Siap Menyongsong Kursi Sekda Sumenep

Rabu, 23 Juli 2025 - 21:34 WIB

Prestasi Tidak Akan Datang dari Ruang-Ruang Kosong yang Gelap dan Tidak Terurus

Jumat, 11 Juli 2025 - 17:19 WIB

Pendidik dalam Tekanan: Ketika Ruang Kelas Menjadi Sumber Stres yang Tak Terlihat

Selasa, 10 Juni 2025 - 21:15 WIB

Anwar Syahroni Yusuf, Loyalis Visi Bupati yang Siap Kawal Birokrasi Sumenep dari Kursi Sekda

Berita Terbaru