Masih Ingatkah dengan Mata Pelajaran Arab Melayu?

- Penulis

Senin, 22 Agustus 2022 - 00:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Isep Ilhami
Mahasiswa STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang

Di era Generasi Z seperti sekarang ini, banyak masyarakat Melayu di Provinsi Kepulauan Riau, yang tidak mengetahui penulisan dan bacaan Arab Melayu. Padahal pada tahun 2000-an tulisan dan bacaan arab melayu ini, menjadi mata pelajaran di bangku sekolah.

Pada saat saya (penulis) masih menduduki sekolah dasar, hingga bangku sekolah menengah pertama (SMP), saya mempelajari penulisan dan baca arab melayu tersebut.

Sadar atau tidak, sekarang ini mata pelajaran tersebut sudah jarang kita dengar atau lihat di sekolah. Sangat disayangkan, penulisan arab melayu ini sudah tidak ada lagi. padahal arab melayu ini merupakan aksara utama dalam penyebaran bahasa melayu, di Nusantara Indonesia.

Sebagai Masyarakat Indonesia dan masyarakat melayu di Kepulauan Riau, penting mengetahui dan mengingat kembali tulisan dan bacaan Arab Melayu tersebut. karena, asal muasal bahasa indonesia yaitu dari bahasa melayu.

Dilansir dari laman https://ditsmp.kemendikbud.go.id, dari datangnya bahasa Indonesia. Berdasarkan keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu, sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca), bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.

Bahasa Melayu mulai, dipergunakan di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah, dengan ditemukannya Prasasti di Kedukan Bukit, berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari, berbahasa Melayu Kuno. Bahasa Melayu Kuno itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli), juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M. Sedangkan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M, yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Bahasa Melayu kemudian masuk ke pelosok Nusantara, seiring dengan penyebaran agama Islam. Sebab, bahasa Melayu gampang diterima masyarakat karena tidak mengenal tingkat tutur. Sehingga ia mampu berfungsi sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa, dan antar kerajaan.

Akan tetapi, dalam perkembangannya, bahasa Melayu yang dipakai di wilayah Nusantara, juga dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Ia awalnya banyak menyerap kosakata dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Setelah itu, muncul pula beragam variasi dan dialek yang berbeda-beda.

Namun, diketahui sekarang ini sudah mulai pudar dan bergeser, akibat munculnya budaya kolonial dan budaya barat yang memecahkan budaya nusantara Indonesia. Seperti contoh munculnya budaya K-Pop dan lainnya.

Anak jaman sekarang banyak yang tahu dan dengan lagu dan drama Korea, bahkan mereka hafal dan lancar dengan menuliskan liriknya di dalam tulisan Korea, daripada menulis dan membaca tulisan arab melayu.

Jadi, pentingkah mata pelajaran arab melayu di terapkan kembali di bangku sekolah, atau mungkin di bangku perkuliahan.

Menurut penulis, memang perlu dihadirkan kembali mata pelajaran arab melayu tersebut, di bangku sekolah. karena arab melayu merupakan warisan agung, yang sangat berharga dan perlu untuk diselamatkan.

Arab melayu merupakan warisan agung yang bernilai tinggi. jika suatu bangsa hilang akan nilainya tersebut, maka bangsa tersebut akan hilang atau bergeser dari asal kulturnya dan bisa jadi bangsa itu akan runtuh.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Follow WhatsApp Channel dapurrakyatnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sekda Sumenep Bukan Sekadar Pembantu, Ia Chef Utama Penentu Rasa Pemerintahan
Faruk Hanafi, Kuda Putih dari Bapenda yang Siap Menyongsong Kursi Sekda Sumenep
Prestasi Tidak Akan Datang dari Ruang-Ruang Kosong yang Gelap dan Tidak Terurus
Pendidik dalam Tekanan: Ketika Ruang Kelas Menjadi Sumber Stres yang Tak Terlihat
Anwar Syahroni Yusuf, Loyalis Visi Bupati yang Siap Kawal Birokrasi Sumenep dari Kursi Sekda
Figur Kuat Calon Sekda: Kapasitas Tak Diragukan, Namun Komunikasi Masih Jadi PR bagi Eri Susanto
Figur Lengkap dari Putra Daerah : Siapa Didik Wahyudi, yang Dianggap Pantas menjadi Suksesor Edy Rasyadi
Ferdiansyah Tetrajaya, Sosok Berpengalaman yang Layak Dipertimbangkan Sebagai Sekda Sumenep

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 13:06 WIB

Sekda Sumenep Bukan Sekadar Pembantu, Ia Chef Utama Penentu Rasa Pemerintahan

Kamis, 7 Agustus 2025 - 09:08 WIB

Faruk Hanafi, Kuda Putih dari Bapenda yang Siap Menyongsong Kursi Sekda Sumenep

Rabu, 23 Juli 2025 - 21:34 WIB

Prestasi Tidak Akan Datang dari Ruang-Ruang Kosong yang Gelap dan Tidak Terurus

Jumat, 11 Juli 2025 - 17:19 WIB

Pendidik dalam Tekanan: Ketika Ruang Kelas Menjadi Sumber Stres yang Tak Terlihat

Selasa, 10 Juni 2025 - 21:15 WIB

Anwar Syahroni Yusuf, Loyalis Visi Bupati yang Siap Kawal Birokrasi Sumenep dari Kursi Sekda

Berita Terbaru

AKBP Anang Hardiyanto saat memasuki Halaman Mapolres Sampang saat acara Sertijab Kapolres Sampang, pada Rabu (29/7/2026).

Berita

AKBP Anang Hardiyanto Resmi Jabat Kapolres Sampang

Rabu, 29 Jul 2026 - 17:23 WIB