Nenek Yang Viral Dengan Status Meninggal Tiga Tahun, Saat ini Dalam Kondisi Mengenaskan

- Editorial Team

Rabu, 31 Maret 2021 - 18:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo: Nenek Muawena Alias Mokni Saat Tim DPC J.P.K.P Kecamatan Ra'as Berkunjung ke Kediamannya

Photo: Nenek Muawena Alias Mokni Saat Tim DPC J.P.K.P Kecamatan Ra'as Berkunjung ke Kediamannya

SUMENEP, DapurRakyatNews – Kisah pilu dialami Muawena, Nenek berusia lanjut yang hidup sebatang kara tinggal didalam gubuk reot. Berdasarkan data elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) yang ditunjukkan Muawena, merupakan warga Dusun Brakas Barat RT002 RW003, Desa Brakas Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Rabu (31/03/2021)

Mas’awi Rois, Tim Media DapurRakyatNews bersama ketua DPC J.P.K.P Kecamatan Ra’as pada hari Senin (29/3), saat berkunjung ke rumah Nenek Muawena, melihat langsung kondisinya sangat memprihatinkan dan begitu mengenaskan.

Sehelai kain yang dipakai untuk menutupi tubuhnya yang sudah tua, tempat tinggal (Rumah) huniannya sangat tidak layak untuk ditempati karena dindingnya menggunakan anyaman bambu, bagian atap atau gentinya banyak yang rapuh dan pecah, beberapa bagian atap rumah tersebut berlubang. Apabila hujan turun, air masuk kedalam rumahnya, dan Nenek Muawena harus rela duduk mencari sela-sela tempat yang tidak bocor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap hari Nenek Muawena harus tidur diatas ranjang kayu tua dan tikar lusuh ditemani cahaya remang-remang sinar rembulan yang menerobos masuk melalui atap genting yang berlubang.

Bahkan, tempat untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) tidak ada. Nenek Muawena juga harus melawan rasa takut jika sewaktu-waktu gubuk reotnya roboh karena kayu yang menyangganya sangat lapuk dimakan usia dan rayap.

Baca Juga:  Memperingati Bulan Bung Karno, ASN dan BUMD di Sumenep Dianjurkan Pakai Peci Hitam
Nenek Yang Viral Dengan Status Meninggal Tiga Tahun, Saat ini Dalam Kondisi Mengenaskan
Photo: Nampak Dari Luar Kondisi Gubug Nenek Muawena Alias Mokni

“Nenek Muawena menceritakan kisah hidupnya ke kita (Tim Media DapurRakyatNes_red) pada hari Senin kemaren saat kita kesana,” kata Mas’awi menegaskan ceritanya.

Selanjutnya Ma’awi menuturkan, Nenek Muawena hidup di gubuk reot tersebut sudah puluhan tahun.

“engko’ e dinna’ kadibi’ molae lambe’ lake pon sobung, mateppa’a bengko ta’ andik’ obeng, ngakan e berri’ tatangge (Saya ditinggal sendirian mulai dulu, suami sudah meninggal, untuk memperbaiki rumah tidak punyak uang, makan diberi oleh tetangga_red),” ucap Mas’awi menirukan ucapan Nenek Muawena yang terbata-bata dengan bahasa Madura.

Mengenaskan kata Mas’awi, karena Nenek Mokni (panggilan Muawena) untuk makan sehari-hari hanya menunggu belas kasihan dari tetangga, dan mengaku hanya bisa pasrah. Tidur ranjang kayu beralaskan tikar lusuh dan bantal dari gulungan kain jarik yang tak kalah lusuhnya dengan tikar.

Tidak ada satupun lemari untuk menyimpan pakaian atau makanan, Nenek Muawena hanya menyimpan pakaiannya di kardus, sementara makanannya ia tempatkan disebuah rantang yang ia gantung di tiang agar tak dimakan kucing.

Lebih lanjut, di samping tempat tidurnya, terdapat tumpukan kayu bakar yang ia gunakan untuk memasak bila ada tetangga yang memberi beras. Diantara tumpukan kayu itulah, Nenek Muawena menempatkan tungkunya untuk memasak dan sangat berbahaya jika terjadi kebakaran.

Baca Juga:  Pasca Teror Bom di Mabes Polri, Polres Sumenep Perketat Penjagaan Pintu Masuk Mako

Ironis kata Mas’awi, Meski sudah hidup dalam kemiskinan selama bertahun-tahun, Nenek malang ini justru tidak pernah tercatat sebagai penerima program bantuan sosial (Bansos) berkala apapun dari Pemerintah, misalnya PKH, BPNT, BLT dan sebagainya. Bahkan bantuan sosial (Konpensasi terdampak Covid-19) untuk warga miskin dan lansia di masa pandemi ini pun tidak ia dapatkan dari Pemerintah.

Baca Juga: Ajaib, Nenek Meninggal Tiga Tahun Yang Lalu Hari Ini Hidup Kembali

Menyikapi hal tersebut, Agus Junaidi, Ketua DPD J.P.K.P Kabupaten Sumenep angkat bicara, bahwa peningkatan angka kemiskinan di Kabupaten ujung paling timur Pulau Garam ini memang ironis. Pulau Garam penuh dengan kekayaan alam, bahkan sekira 70 persen kebutuhan minyak dan gas bumi (migas) Jawa Timur dipasok dari Madura.

Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan data kemiskinan di Kabupaten Sumenep sangat tinggi porsentasenya mencapai 20,18 porsen dari total jumlah penduduk Sumenep pada tahun 2019.

“Saat ini, Nenek Muawena memang sangat membutuhkan tempat tinggal yang layak. Saya pernah mendengar kalau rumahnya akan direhab. Namun, hingga saat ini sudah berganti kepala desa beberapa kali tak kunjung terlaksana. Program bedah rumah untuk warga miskin tak pernah menghampiri karena si nenek tak pernah tercatat sebagai KPM Bansos meski mempunyai e-KTP,” tegas Agus panggilannya.

Baca Juga:  Dinilai Mampu Memajukan Kotanya, Bupati Situbondo Kembali Mendapatkan Penghargaan

Menurut Agus, Hidup di usia senja dengan tubuh yang telah ringkih termakan usia, tentu bukanlah perkara yang mudah untuk dilalui. Selain kemampuan secara fisik yang telah menurun seiring bertambahnya umur. Berteduh di gubuk reyot dan menanggung derita hidup sendiri tanpa ditemani oleh sanak saudara, membuat sosok Nenek Muawena harus menanggung beban hidup dengan hati yang tegar.

Tubuhnya yang telah renta dimakan usia, harus pasrah terbaring dan meringkuk di dalam gubug deritanya yang telah reyot. Belum lagi penyakit yang datang silih berganti menggerogoti tubuhnya, membuat penderitaan dalam kehidupan seolah tak bertepi.

“Kami atas nama J.P.K.P dan masyarakat miskin sangat berharap sikap tanggungjawab Pemerintah atas hak-hak warga miskin, si Nenek ini sudah miskin dan terindikasi ditelantarkan, cobalah pikir wahai para pemangku jabatan di Sumenep,” ucap Agus setengah kesal.

Agus mengaku akan turun untuk melakukan penggalangan dana atas keberadaan dan keadaan hidup Nenek tersebut, “Saya sendiri akan turun, masak sih pejabat di Sumenep ini tidak tergugah hatinya untuk membantu,” pungkasnya.

Baca JugaKapolri Putuskan 1.062 Polsek Untuk Pemeliharaan Kamtibmas

Pewarta: Puja
Editor: Tim J.P.K.P
Publisher: Pemred
Salam Perjuangan Tanpa Batas

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel dapurrakyatnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

‎Masyarakat Pulau Manok Kesulitan Air Bersih, Air Minum Harus Didatangkan dari Sapudi dan Raas ‎
HUT RI ke-81, Bappeda Sumenep Teguhkan Komitmen Perkuat Perencanaan Pembangunan
Prestasi Nasional Berlanjut, BPRS Bhakti Sumekar Raih KEJAR Award 2026
HCML Salurkan Bantuan Tandon Air ke Tiga Desa Terdampak Kekeringan di Sapudi
Seleksi Terbuka JPTP Sumenep Rampung, Ini 12 Peserta Terbaik di Empat Jabatan Strategis
‎Bappeda Sumenep Tampilkan Perencanaan Pembangunan dan Transformasi Pelayanan di Madura Culture Fest 2026
DKPP Sumenep Pamerkan Komoditas Lokal dan Buka Layanan Pertanian di Madura Culture Fest 2026
Perbankan Sumenep Kompak di MCF 2026, Dirut BPRS Bhakti Sumekar: Kami Ingin Pelaku Usaha Terus Tumbuh

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 10:51 WIB

‎Masyarakat Pulau Manok Kesulitan Air Bersih, Air Minum Harus Didatangkan dari Sapudi dan Raas ‎

Rabu, 9 September 2026 - 13:16 WIB

HUT RI ke-81, Bappeda Sumenep Teguhkan Komitmen Perkuat Perencanaan Pembangunan

Rabu, 9 September 2026 - 08:51 WIB

Prestasi Nasional Berlanjut, BPRS Bhakti Sumekar Raih KEJAR Award 2026

Selasa, 8 September 2026 - 16:31 WIB

HCML Salurkan Bantuan Tandon Air ke Tiga Desa Terdampak Kekeringan di Sapudi

Kamis, 3 September 2026 - 11:45 WIB

Seleksi Terbuka JPTP Sumenep Rampung, Ini 12 Peserta Terbaik di Empat Jabatan Strategis

Berita Terbaru