Dapurrakyatnews – Di tengah ribuan jamaah yang menjalankan ibadah haji di Tanah Suci, terdapat kisah mengharukan yang datang dari rombongan Jamaah Haji Indonesia Kloter 77 asal Kabupaten Sumenep. Sosok seorang pemuda yang dengan penuh kesabaran dan ketulusan mendampingi ayahnya yang menyandang tunanetra menjadi perhatian para jamaah maupun petugas haji.
Pemuda tersebut adalah Moh Agung (25), warga Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep. Di usianya yang masih muda, Agung menunjukkan bentuk pengabdian yang luar biasa kepada orang tuanya dengan mendampingi sang ayah, Abdul Kodir, selama menjalankan rangkaian ibadah haji tahun 2026.
Setiap langkah ayahnya tidak pernah lepas dari pengawasan dan pendampingannya. Mulai dari berjalan menuju masjid, mengikuti kegiatan ibadah, hingga berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya, Agung selalu berada di depan sang ayah yang meletakkan ke dua tangannya ke pundaknya, untuk memastikan seluruh proses ibadah dapat dijalankan dengan aman dan nyaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan tersebut kerap mengundang rasa haru dari jamaah lain yang menyaksikannya. Dengan sabar, Agung menjadi penuntun sekaligus “mata” bagi ayahnya yang telah kehilangan penglihatan sejak dirinya masih kecil.
Saat ditemui di sela-sela pelaksanaan ibadah haji di Arofah, Agung mengaku bahwa mendampingi ayahnya ke Tanah Suci merupakan sebuah kesempatan berharga yang tidak ingin disia-siakannya.
“Ayah saya kehilangan indra penglihatannya sejak saya masih balita. Sejak kecil saya melihat bagaimana beliau berjuang membesarkan keluarga meskipun memiliki keterbatasan. Karena itu, ketika ada kesempatan berangkat haji bersama, saya merasa ini adalah salah satu cara saya berbakti dan mengabdi kepada orang tua,” ujar Agung.

Mahasiswa program magister (S2) di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta tersebut menuturkan bahwa pengabdian kepada orang tua tidak selalu diwujudkan dalam bentuk materi. Menurutnya, kehadiran, perhatian, dan kesediaan mendampingi orang tua dalam setiap kondisi merupakan bentuk bakti yang tidak ternilai.
Baginya, perjalanan haji kali ini bukan hanya perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi momentum mempersembahkan pengabdian terbaik kepada sang ayah yang selama ini telah banyak berkorban untuk keluarga.
“Saya hanya ingin memastikan ayah bisa menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan baik. Jika beliau merasa nyaman dan bahagia, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya,” katanya.
Ketelatenan dan kesabaran Agung selama mendampingi ayahnya juga mendapat apresiasi dari para petugas haji Kloter 77. Mereka menilai sikap yang ditunjukkan pemuda asal Saronggi tersebut menjadi contoh nyata tentang pentingnya menghormati dan berbakti kepada orang tua.
Salah seorang petugas Kloter 77 mengungkapkan bahwa selama berada di Tanah Suci, Agung hampir tidak pernah meninggalkan ayahnya sendirian. Ia selalu memastikan kebutuhan ayahnya terpenuhi, mulai dari kebutuhan ibadah hingga aktivitas sehari-hari.
“Kami sangat mengapresiasi dedikasi dan ketulusan Mas Agung. Tidak semua anak muda memiliki kesabaran seperti yang ia tunjukkan. Selama mendampingi ayahnya, ia terlihat sangat telaten, penuh perhatian, dan tidak pernah mengeluh. Ini menjadi teladan yang baik bagi generasi muda,” ungkap salah satu petugas kloter.
Petugas lainnya menambahkan bahwa kisah Agung menjadi inspirasi bagi banyak jamaah selama berada di Tanah Suci. Di tengah padatnya aktivitas dan beratnya rangkaian ibadah haji, Agung tetap menunjukkan semangat melayani orang tuanya dengan penuh keikhlasan.
Sementara itu, Ketua Kloter 77 Kabupaten Sumenep, Asnawi, M.Pd., mengaku terharu menyaksikan ketulusan Agung dalam melayani dan mendampingi ayahnya selama pelaksanaan ibadah haji.
Menurutnya, sosok Moh Agung mengingatkannya pada keinginan yang belum sempat ia wujudkan, yakni memberangkatkan ayahnya ke Tanah Suci pada tahun 2023. Kenangan tersebut membuatnya tak kuasa menahan air mata, terlebih sang ayah telah wafat dan menghadap Allah SWT setahun yang lalu.
“Agung adalah anak yang luar biasa. Apa yang dilakukannya merupakan wujud bakti seorang anak kepada orang tua yang patut menjadi inspirasi bagi banyak orang,” tuturnya. Selasa (9/7/2026).
Kisah Moh Agung dan ayahnya menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya tentang perjalanan fisik dan spiritual, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, serta bakti seorang anak kepada orang tua. Di tengah jutaan umat Islam yang berkumpul di Tanah Suci, ketulusan Agung menjadi gambaran nyata bahwa surga memang berada di bawah ridha orang tua.
Perjalanan mereka pun menjadi salah satu kisah inspiratif dari Jamaah Haji Kloter 77 Kabupaten Sumenep pada musim haji tahun 2026, sebuah cerita tentang cinta, pengorbanan, dan pengabdian seorang anak yang dengan setia menjadi mata bagi ayahnya dalam menunaikan rukun Islam kelima.







