SUMENEP, DapurRakyatNews – RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Abuya-Kangean yang berlokasi di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, Madura. Terus menuai polemik di masyarakat Kepulauan Sumenep, sejak diresmikan oleh Pemkab Sumenep.
Subscribe👉 Dapur Rakyat News TV
Kehadiran RSUD bertipe D milik Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Sumenep itu, tentu saja menjadi sebuah asa bagi peningkatan pelayanan kesehatan di wilayah Kepulauan Kangean dan sekitarnya. Peresmian rumah sakit tersebut dihadiri oleh Bupati Sumenep saat itu Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si, yang ditandai dengan pengguntingan pita dan penyerahan dua unit mobil ambulance pada tanggal 14 September Tahun 2020.
Baca Juga : Tudingan Pungli Bantuan APD Untuk Sapeken, Ini Kejadian Sebenarnya
Mulai dari pembangunannya yang belum rampung 100 persen sampai saat ini, tidak diadakannya ‘ruwatan’ saat pekerjaan pembangunannya dimulai, hingga banyaknya korban jiwa dari pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang dirujuk kesana. Banyak masyarakat Kangean meyakini penamaan Abuya, yang oleh mereka dipelesetkan menjadi ‘Buaya’, adalah faktor penyebabnya.
Seperti yang disampaikan oleh salah satu masyarakat asli Kangean, dalam sebuah rekaman audio yang viral di WAG (WhatsApp Group). “Itu tidak diruwat (tradisi selamatan pada saat awal proses pembangunan_red). Pada waktu menggali pondasi tidak ada selamatan.” Ujarnya.
“Orang yang masuk ke Abuya (Pasien_red) tidak ada yang selamat. Kalaupun ada yang selamat itu seratus satu (100 : 1_red). Bagaimana tidak sedikit-sedikit makan korban, suruh rubah saja lah pak namanya itu.” Tukasnya lebih lanjut.
Baca Juga : Kabar Gembira, Pertamina Gerak Cepat Untuk Penanganan Covid-19 Dapatkan Apresiasi Menkes
Ketua KWK (Komunitas Warga Kepulauan) H. Safiudin, S.H., M.H., ikut berkomentar terkait penamaan RSUD Abuya. “Tentang nama Rumah Sakit Abuya, mayoritas masyarakat kepulauan tidak sependapat, tidak setuju, bahkan banyak yang meledek. Apalagi dikaitkan dengan beberapa kematian pasien Covid-19 pada saat-saat ini.” Ungkapnya.
Haji Piu panggilan karib Ketua KWK juga menyampaikan masyarakat kepulauan menghendaki perubahan nama. Misalnya dirubah menjadi Rumah Sakit Arjasa atau Rumah Sakit Kepulauan Kangean. Dirinya juga memberikan alternatif, jika diberi nama RSUD dr. H. Zein, putra Kangean kelahiran Kolo-kolo yang pertama kali menjadi dokter dan pernah menjadi Direktur Rumah Sakit Sampang.
“Pada pokoknya nama itu tidak boleh orang yang masih hidup. Walaupun Abuya itu bukan nama asli KH. Busyro di dalam ijazah. Akan tetapi semua orang tahu, bahwa panggilan KH. Busyro itu, lumrah, umum, dan bahkan panggilan kerennya adalah Abuya. Jadi sulit dipungkiri bahwa itu bukan nama seseorang yang masih hidup.” Bebernya.
Baca Juga : Persoalan Odong-odong Membuat Linsek Sapeken Rapat Dadakan
Di tempat terpisah Ketua DPD J.P.K.P Sumenep R. Agus Junaidi menanggapi perdebatan nama RSUD Abuya, yang oleh sebagian besar masyarakat Sumenep merupakan nama dari Bupati Sumenep kala itu.
“Karena sesuai Permenkes No. 56 Tahun 2014 Pasal 77 Ayat 2, pemberian nama rumah sakit tidak boleh atau dilarang, nama orang yang masih hidup. Sepertinya ada aturan yang sengaja ditabrak saat memberikan nama.” Terangnya.
Agus kemudian seolah bertanya, RSUD Abuya ini merujuk ke nama siapa, apakah ke mantan bupati? Jika merujuk ke nama mantan bupati jelas ada aturan yg ditabrak. Namun, menurut Agus nama mantan Bupati Sumenep KH. Busyro Karim, bukan Abuya, lantas Siapakah Abuya tersebut?
Baca Juga : Hadirnya Koarmada II TNI-AL di Kepulauan Sapeken Buktikan OPD Terkait Sumenep Lelet
Berdasarkan informasi yang diperoleh DapurRakyatNews, pada awalnya nama yang direncanakan untuk rumah sakit tersebut adalah RSUD Arjasa. Tetapi tiba-tiba sesaat sebelum peresmian, sang pemborong yang mendapatkan pekerjaan pembangunannya mengusulkan nama Abuya. Yang kemudian disetujui oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep waktu itu.
Hasil penelusuran DapurRakyatNews di laman pencarian Wikipedia, nama Bupati Sumenep Republik Indonesia Periode 2016 – 2021, adalah Abuya Busyro Karim. Terlepas dari penanaman RSUD Abuya, apakah merujuk kepada Bupati Sumenep periode itu atau tidak, seyogyanya pembangunan rumah sakit tersebut segera dirampungkan.
Miris melihat sebagian bangunan RSUD Abuya yang masih dalam tahap penyelesaian. Padahal saat diresmikan, Bupati Sumenep sempat mengungkapkan targetnya akan selesai akhir Desember 2020. Dinas Kesehatan Sumenep seolah menyandera dan merusak nama baik KH. Busyro Karim Bupati Sumenep dua periode, dengan senyumannya yang khas itu.
Baca Juga : Minimarket Modern Diduga Menghilangkan Aset Daerah Sumenep
Apakah kepemimpinan Achmad Fauzi dengan tagline Sumenep Melayani akan menyudahi polemik terkait RSUD Abuya? Tentunya diperlukan restrukturisasi organisasi pada Dinas Kesehatan Sumenep, dengan orang yang benar-benar mau melayani bukan nyaman dilayani.
