Waspada, Membawa Keris di Kota Keris

Waspada, Membawa Keris di Kota Keris
Photo : Ika Arista, satu-satunya empu perempuan di Kota Keris [dok]

SUMENEP, DapurRakyatNews – Keris merupakan benda budaya yang eksotik, sebuah karya seni sekaligus benda budaya asli Nusantara. Budaya keris terbentang dari ujung pulau Sumatra di barat hingga ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara di Selatan.

Keris merupakan identitas pengikat sebagai pendorong rasa kebangsaan, yang bukan hanya dalam pengertian simbol yang bersifat abstrak, melainkan simbol nyata yang dapat mewakili hampir dari seluruh suku bangsa yang ada di Nusantara.

Saat ini, penggunaan Keris lebih banyak sebagai ornamen pelengkap dalam berbusana adat. Sebagai produk kebudayaan, keris mengandung sejumlah nilai luhur kebudayaan dan menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur, dideklarasikan menjadi Kota Keris terbesar di Asia Tenggara. Deklarasi dilaksakan pada 31 oktober 2013 bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sumenep.

Keris Sumenep sudah diakui Unesco, keputusan untuk mendeklarasikan Sumenep sebagai Kota Keris berdasarkan hasil diskusi dengan kelompok-kelompok empu keris di Sumenep. Saat ini, jumlah empu keris di Sumenep mencapai 554 empu, jumlah ini diklaim sebagai empu terbanyak se-Asia Tenggara.

Kris atau keris adalah senjata asimetris khas dari Indonesia. Sebagai senjata maupun benda spiritual, keris dianggap memiliki kekuatan magis. Keris paling awal diketahui berasal dari abad kesepuluh dan kemungkinan menyebar dari pulau Jawa ke seluruh Asia Tenggara.

Keris dipakai setiap hari dan pada upacara khusus, pusaka ini diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi. Baik pria maupun wanita bisa memakainya.

Exit mobile version