SURABAYA, DapurRakyatNews – Penanganan COVID-19 masih juga belum maksimal meski pandemi sudah berjalan setahun. Kini persoalannya adalah angkanya sengaja dikurangi agar seolah kasus turun. Sejumlah pemerintah daerah sengaja menurunkan performa testing COVID-19.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperingatkan sengaja menurunkan angka testing berbahaya, terutama karena sejumlah varian virus SARS‑CoV‑2 yang lebih berbahaya sudah masuk ke Indonesia. Per Selasa 18 Mei 2021, sudah ada 10 sampel yang teridentifikasi terinfeksi varian B1617 yang mengganas di India. Selain itu varian B117 yang mengganas di Inggris terdeteksi di 13 sampel warga negara Indonesia, varian B1525 terdeteksi sejak Januari lalu di Batam dan varian B.1.351 terdeteksi di satu sampel warga asal Bali.
“Banyak Forkopimda (forum komunikasi pimpinan daerah), karena mengejar hijau, lantas testing disedikitkan,” kata Budi.
Baca Juga : Perasaan Masyarakat Terlukai Kembali Oleh Pesta Penguasa
Alih-alih mengejar status zona hijau, Budi menekankan tak masalah jika kasus tinggi akibat testing yang juga banyak.
“Lebih baik kita lihat angkanya seperti apa, dan kita bisa lakukan perbaikan yang baik daripada nanti lengah, tidak terkontrol sehingga banyak rakyat kita yang wafat,”Tandasnya.
Ketua Tim Mitigasi PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi, sebetulnya telah mengungkap ada daerah yang bertindak demikian pada September tahun lalu. Pernyataan Budi membuktikan alih-alih membaik
“Masalah testing ini sudah ditelantarkan dari skala prioritas penanganan wabah di daerah, rendahnya angka kasus yang dinikmati hari ini diakibatkan rendahnya tes di banyak daerah, hal itu terlihat dari positivity rate yang masih tinggi,”Terang Adib.
Karenanya harus didalami motif utama pemerintah daerah berlaku curang, Apakah sekadar untuk menghindari disemprot oleh Kementerian Dalam Negeri karena ‘terbukti’ bisa mengatasi Pandemi dengan berstatus zona hijau, atau agar tak diwajibkan menjalankan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari Kementerian Perekonomian, atau agar destinasi wisata bisa tetap dibuka sehingga ekonomi lokal bergerak.
Dua minggu usai lebaran 2021, kasus COVID-19 di Jawa Timur mulai naik. Sebaran COVID-19 di 38 Kabupaten/Kota Jawa Timur turut berubah, Kini zona kuning berkurang menjadi 15 daerah.
Jubir Satgas COVID-19 Jawa Timur, dr Makhyan Jibril menjelaskan bahwa ada kenaikan kasus Corona di Jawa Timur.
“Naik, tapi melandai. Lebaran sekitar 150-an kasus sehari. Dalam 7 hari terakhir berkisar 200-210 kasus tiap hari,” ujar Jibril saat dikonfirmasi media, Selasa (25/5/2021).
Adanya kenaikan kasus tersebut, lanjut Jibril, sedikit berdampak pada zonasi COVID-19 di 38 Kabupaten/Kota Jatim. Di antaranya, jumlah daerah yang masuk zona oranye bertambah.
Untuk kawasan kawasan Madura Raya meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep masuk zona kuning COVID-19. Hingga Selasa (25/5), kasus aktif COVID-19 di Jawa Timur sebanyak 1.537. Sebanyak 140.595 pasien sudah dinyatakan sembuh, Sebanyak 11.207 pasien COVID-19 dinyatakan meninggal dunia.
Agus Junaidi, Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Sumenep menambahkan, bahwa sebagai bagian dari masyarakat, harus mengawal hal tersebut, memberi tekanan dan tuntutan yang tinggi kepada Dinas terkait utamanya kepada Pemerintah, karena selama ini masyarakat seolah dibuai dengan trik-trik zona hijau.
“Sengaja mengurangi angka demi mendapat status zona hijau ibarat menggali lubang kubur sendiri. Di satu sisi status zona hijau akan mendorong masyarakat abai pada pembatasan sosial, Padahal kenyataannya penurunan itu semu, penyebaran masih masif terjadi di tengah-tengah masyarakat,” Jelas Agus.
Baca Juga : Gaji ke-13 Tak Utuh, Ternyata ini sebabnya
Awalnya penularan terjadi di rumah-rumah. Lama kelamaan tingkat okupansi rumah sakit dan kematian meledak dan saat itu pemerintah baru sadar apa yang terjadi. Kondisi seperti itu yang terus terjadi setahun ini. Karenanya Indonesia tidak pernah bisa mengendalikan Pandemi, bahkan jika negara lain sempat mengalami penurunan kasus, Indonesia tidak pernah beranjak sejak dari gelombang pertama.
Dari Berbagai Sumber
Editor : Ferry Saputra
