Sumenep Tetapkan KLB Campak, Pemerintah Lakukan Imunisasi Massal

Campak
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri

Dapurrakyatnews – Wabah campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, sejak awal Agustus tahun 2025, menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan masyarakat.

Penyakit ini sangat menular dan berisiko tinggi, terutama bagi anak-anak. Ratusan pasien dengan gejala campak (suspek) harus dirawat secara intensif.

Namun, upaya cepat dan terkoordinasi dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep membuahkan hasil positif. Hingga akhir Agustus 2025, sebagian besar pasien telah dinyatakan sembuh, menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan cukup efektif.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, menjelaskan bahwa meskipun jumlah kasus meningkat cukup tajam, tingkat kesembuhan yang tinggi menjadi indikator keberhasilan.

“Sejak Januari hingga 28 Agustus 2025, kami mencatat ada 2.370 kasus suspek campak. Dari jumlah itu, 2.277 pasien sudah sembuh. Masih ada 73 pasien yang saat ini dalam perawatan, dan 20 pasien meninggal dunia,” ujarnya dengan nada prihatin.

“Kami tentu terus berupaya agar pasien yang masih dirawat bisa segera pulih. Kami juga menyampaikan belasungkawa atas pasien yang meninggal, ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya pencegahan.” ungkapnya. 

Syamsuri juga memaparkan kondisi terkini pasien yang masih dirawat.
“Dari 73 pasien yang masih ditangani, 48 dirawat di rumah sakit karena kondisi mereka memerlukan perawatan lanjutan. Sementara 25 lainnya dirawat di puskesmas. Kami terus memantau mereka dengan ketat, termasuk memastikan kebutuhan obat dan layanan medis tetap terpenuhi,” jelasnya.

Sebagai respons cepat, Pemerintah Kabupaten Sumenep menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada pertengahan Agustus 2025. Untuk menekan penyebaran, Dinkes P2KB meluncurkan program Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi darurat campak secara massal.

“Kami langsung gerak cepat. ORI kami lakukan serentak di 26 puskesmas dengan melibatkan seluruh tenaga kesehatan yang ada,” kata Syamsuri.

Program ORI dimulai pada 25 Agustus 2025 dan menargetkan 73.969 anak di seluruh wilayah Sumenep. Imunisasi dijadwalkan berlangsung selama dua minggu.

Menurut Syamsuri, imunisasi massal merupakan langkah paling strategis dalam mengatasi wabah.

“ORI ini sangat penting karena bertujuan memutus rantai penularan campak. Kami mengajak semua orang tua agar tidak ragu membawa anak-anaknya ke puskesmas atau pos imunisasi. Layanan ini gratis, dan ini cara paling efektif melindungi anak-anak kita,” tegasnya.

“Kami juga memastikan semua fasilitas kesehatan siap—mulai dari ketersediaan vaksin, alat pelindung diri, hingga tenaga medis. Tujuan kami adalah memastikan pelaksanaan ORI berjalan lancar, aman, dan menjangkau seluruh anak yang menjadi sasaran,” pungkasnya.

Exit mobile version