SUMENEP, DapurRakyatNews – Apakah Anda pernah bertemu seseorang yang fasih berbicara Inggris, kemudian dalam waktu yang sama juga mampu berbicara bahasa Rusia, Perancis, Arab, Korea, Jepang, Mandarin dan seterusnya? Berarti Anda bertemu dengan seorang Hiperpoliglot.
Seorang pakar linguistik dari University College London, Richard Hudson menyebut orang yang fasih berbicara dalam enam bahasa atau lebih bisa disebut Hiperpoliglot.
Hiperpoliglot merupakan bakat yang sangat langka, tercatat hanya beberapa orang di indonesia yang mempunyai kemampuan ini. Seorang yang disebut-sebut sebagai poliglot pertama di Indonesia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Kakak dari Raden Ajeng Kartini ini setidaknya menguasai kurang lebih 17 bahasa asing.
Sementara Tokoh Indonesia lain yang menyandang predikat Hiperpoliglot adalah Soekarno. Presiden pertama Indonesia itu setidaknya menguasai 9 bahasa, Selain itu ada Agus Salim, Menteri Luar Negeri Indonesia ke-3 ini setidaknya kurang lebih menguasai 9 bahasa juga.
Beruntung, di Sumenep juga ada putera daerah yang juga mempunyai bakat hiperpoliglot ini, adalah Ainun Faqih, S.Pd, (26) pemuda kelahiran juli 1995 ini berasal dari Desa Lanjuk Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep. Lulus dari Universitas Negeri Surabaya Tahun 2019 Jurusan Bahasa Mandarin, dirinya langsung mengabdi di almamaternya sebagai penerjemah bahasa bagi dosen dosen asing yang mengajar di kampus tersebut.
Secara kebetulan Ketua DPD J.P.K.P Sumenep, R. Agus Junaidi, menemukan anak muda pendiam ini di aplikasi medsos tiktok yang sedang ngetrend di Indonesia, konten podcast dan vloging Ainun Faqih yang fasih berbicara dalam berbagai bahasa dilike dan dishare ribuan netizen.
Mendengar hal tersebut, Bupati Sumenep Achmad Fauzi langsung tertarik dan ingin bertemu dengan pemuda berbakat yang mampu berbicara dalam 10 bahasa ini, 7 bahasa asing yaitu ; Inggris, Arab, Mandarin, Spanyol, Korea, Rusia, Perancis dan 3 bahasa lokal ; Indonesia, Jawa dan madura. Bertempat di rumah dinas bupati, pada hari Senin malam 10 Mei 2021.
Faqih, panggilan akrab pemuda yang bercita-cita ingin keliling dunia ini menyampaikan harapannya dihadapan pemimpin sumenep. Baginya, mengabdi di kampung halaman (Sumenep_red) adalah keinginan saya saat ini, namun saya masih kuatir apakah saya bisa hidup hanya dengan bermodalkan ijazah sarjana dan kemampuan ini di Sumenep.
“Apalagi saya adalah anak tunggal, sedangkan kedua orang tua hanya petani yang sudah mulai sepuh dan hanya hidup dari mengandalkan hasil tani nya untuk hidup sehari-hari,” ungkapnya lirih, seperti layaknya seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya.
Faqih juga mengutarakan, kalau di Surabaya, dirinya masih bisa nyambi buka kursus freelance untuk para pegawai kantoran dan anak-anak sekolah. Terkadang juga menjadi guide bagi para turis asing yang akan berwisata ke Gunung Bromo, untuk menambah pemasukan biaya hidup sehari-hari.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi, S.H, M.H, menanggapi kemampuan Hiperpoliglot Faqih dengan antusias, “Saya senang ada anak muda apalagi putera daerah yang punya bakat langka seperti Faqih, mau pulang untuk ikut membangun Sumenep. Nanti kita carikan cara untuk memberdayakan kemampuan unik Faqih ini, mungkin di Sektor Pariwisata, di promosinya atau di mana saja yang cocok.” Ujar Achmad Fauzi.
Dalam perbincangannya bersama Faqih, Bupati Muda Sumenep ini juga menyampaikan bahwa, akan teramat sayang sekali kalau ada anak muda Sumenep yang berbakat sampai lepas dan malah berkarya di kota lain. Sedangkan Kota Keris sendiri sedang gencar-gencarnya membangun demi perubahan Sumenep yang lebih maju.
Faqih yang pernah mengikuti program pertukaran mahasiswa ke China selama satu semester ini, mengaku sangat senang sekali bisa bertemu dan mengobrol langsung empat mata dengan Bupati Sumenep, dan berharap semoga harapannya bisa segera terkabul pasca bertemu dengan Bupati.
Terpisah, seorang aktivis sosial Bumi Arya Wiraraja yang juga tergabung di DPD J.P.K.P Sumenep, Ferry Saputra, menyampaikan idenya terkait kemampuan Hiperpoliglot Faqih.
“Pemerintah Sumenep saat ini sedang menggodok sebuah program inovatif yaitu One Asn One Medsos, itu bisa menjadi solusi bagi seorang Faqih. Program tersebut pasti membutuhkan konten kreatif promo untuk dishare oleh para ASN pemkab di medsosnya.
Disisi itulah kemampuan bakat Hiperpoliglot milik Faqih bisa di eksplorasi dan di berdayakan secara maksimal, masukkan dia ke dalam tim kreatif konten Diskominfo.” Beber Ferry yang juga berprofesi sebagai Arsitek.
Menurut Ferry, bisa juga Faqih sendiri yang ngevlog atau membuat podcast tentang pariwisata di Sumenep, seperti ngevlog tentang sejarah Masjid Jami’ Sumenep dalam berbagai bahasa asing. Dan konten tersebutlah yang disebar oleh para ASN, serta Faqih dapat menerima bayaran per konten atau dapat juga kontrak selama satu periode.
“Saat sebuah konten promosi diproduksi langsung, duplikasi konten tersebut dalam berbagai bahasa yang dikuasai Faqih. Sehingga konten tersebut mempunyai daya sebar yang jauh lebih luas lagi sampai keluar negeri tidak hanya di tingkat nasional.” Tukasnya.
Banyak sekali putra putri daerah Sumenep berprestasi yang sedang belajar atau malah sudah bekerja dan berkarya di kota lain di Indonesia bahkan di luar negeri. Mereka sebagian besar beranggapan kota tersebut justru jauh lebih menghargai keahlian, bakat dan kemampuan mereka daripada kota Sumenep sendiri.
Tentu hal ini merupakan kerugian yang sangat besar bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep, disaat Pemkab sedang membutuhkan banyak sumber daya manusia yang berkualitas untuk membangun Sumenep lebih maju.
Baca Juga : Milyaran Anggaran Dari Kementerian PUPR Mengucur Ke Kota Keris Untuk Siapa?
Pewarta : Faldy Aditya
Editor : D. Julak
